Harga bahan bakar minyak (BBM) naik selalu terjadi dalam setiap rezim/pemerintahan di negeri ini. Pemerintahan terakhir di bawah kepemimpinan Susilo Bambang Yudhoyono pun tak kuasa menahan diri demi menyeimbangkan anggaran pendapatan dan belanja negara (APBN) yang kembang-kempis disodok oleh kenaikan harga minyak mentah dunia yang terus menari-nari ke langit.
Harga BBM yang resmi dinaikkan pemerintah rata-rata 28,75% pada Jumat (23/5) dan berlaku efektif pada Sabtu (24/5) tepat pukul 00.00 WIB itu membuat kebanyakan rakyat panik. Mereka yang memiliki kendaraan bermotor segera mengular guna mendapatkan harga lama BBM. Akibatnya, di sana-sini terjadi kekisruhan. Sementara ibu-ibu rumah tangga menjerit karena sebelum BBM dinaikkan harga-harga sayur-mayur sudah lebih dulu dinaikkan.
BBM sudah terlanjur naik. Harga-harga kebutuhan pokok dan yang lainnya tak bisa dibendung. Banyak demo yang mempertanyakan kebijakan pemerintah yang selalu ujung-ujungnya menaikkan harga BBM. “Memang nggak ada kebijakan lain yang menguntungkan atau tepatnya dapat menyejahterakan rakyat banyak?” demikian pertanyaan yang dilontarkan banyak pendemo.
Iya, kita ini heran dan bingung. Masak, negeri kaya sumber daya alam dan energi kita jadi “bangsa pesakitan” ya? Demikian suara sebagian rakyat yang tertangkap di lapangan. (SZ)
Filed under: Uncategorized