Perubahan: Sejarah Baru dari Monarki Jadi Republik Nepal

Sebagai bagian dari penduduk alam semesta, manusia, baik perorangan maupun individu harus siap siaga dengan segala “kemungkinan”. Salah satu kemungkinan yang tak dapat dielakkan ialah munculnya perubahan (change). Perubahan ini datangnya bisa mengalir secara alami, bisa pula “direncanakan” atau bahkan dipaksakan.

Salah satu negara di wilayah Asia Selatan, yakni Nepal, Kamis (29/5) mengukir sejarah kerajaan (Hindu) yang telah berumur 239 tahun. Parlemen hasil Pemilu April 2008 lalu yang mengakomodasi 220 kursi dari sayap kiri Maoist dari total 601 kursi berhasil mengubah undang-undang yang mengubah institusi kerajaan menjadi  bentuk republik.

Dengan penegasan itu, parlemen mendesak penguasa kerajaan yang masih bertahan, Raja Gyanendra untuk segera mengosongkan istana Merah Muda di Kathamandu. Istana tersebut nantinya akan “disejarahkan” dengan menjadikannya museum.

Perubahan negara monarki menjadi republik itu disambut sebagian warga Nepal dengan suka cita. Kenyataannya tak dapat dipungkiri bila kelompok pemberontak Maoist, yang oleh pemerintah George W. Bush dikategorikan sebagai organisasi teroris, itu kini sudah masuk ke wilayah pengambil keputusan.  Sebagian  rakyat Nepal, dari 26 juta orang, tersebut telah memberikan kepercayaan pada wakil-wakil mereka yang tergabung dalam partai Maoist. Perubahan negara monarki ke republik pun mendapat sambutan hangat warganya.

Rakyat Nepal kini sedang menata negerinya dengan sejarah barunya.  (AP/Rtr/Sindo)

Leave a Reply