Reputasi Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) sedang dipertaruhkan. Ini terkait dengan pemberitaan jor-joran soal blue energy ala Joko Suprapto dalam rentang waktu sebulanan terakhir. Misteri Joko dan blue energy-nya membetot perhatian media dan publik untuk terus memantau perkembangan isu terhangatnya. Dan karena UMY tak mau “kehilangan muka” karena dikaitkan dengan proyek penelitian kerjasama dengan Joko Suprapto dan Purwanto cs, Jumat (13/6) lalu tim ahli teknik elektro UMY terpaksa membongkar pembangkit listrik mandiri Jodhipati yang dipasang di kampus modern tersebut.
Benar saja, pihak UMY, sebagaimana dikutip detik.com (14/6), tidak mendapatkan fakta ilmiah dalam trafo pembangkit tersebut. UMY menyatakan merasa tertipu Joko cs dengan kehilangan material sedikitnya Rp1 miliar untuk pembiayaan proyek penelitian pengembangan bahan bakar alternatif bersumber air (banyugeni) itu.
Tak mau berlama-lama pihak UMY berencana segera mengadukan delik hukum, perdata maupun pidana, terhadap Joko. Sementara Joko, seperti dikutip Koran Tempo (14/6) mengelak disangkutpautkan dengan penelitian di kampus UMY.
Mendapatkan fakta yang tak terbantahkan dari “pembangkit listrik” yang diklaim dapat menghasilkan listrik 3 mega-watt tapi ternyata bohong belaka, pimpinan UMY memang sah-sah saja menggugat Joko cs. Bayangkan, sebuah perguruan tinggi yang cukup ternama di kota pelajar tersebut harus kehilangan reputasinya jika terbukti menjalin kerjasama dengan Joko dan Purwanto cs yang hari-hari ini sedang dicecar para pekerja pers untuk membuktikan hasil penelitiannya soal blue energy.
Kritik dan cercaan pada UMY atas “kelalaiannya” sudah mulai terlihat di berbagai portal berita yang dilontarkan para komentatornya. Ada yang tidak akan menyarankan saudaranya kuliah di kampus tersebut. Nah!
Bagaimana pula dengan reputasi sang Presiden bila kelak Joko Suprapto tak dapat segera merealisasikan janjinya untuk membuktikan bahwa air dapat dijadikan bahan bakar alternatif yang murah??
Filed under: Nasional