Model Kebanci-bancian Jadi Ngetop, Lalu?

Puluhan tahun sudah penonton televisi akrab dengan satu-dua pelawak laki-laki yang memerankan dirinya sebagai perempuan. Selain dandanannya yang menor, dipoles dengan make up yang tebal, juga gaya lakunya centil seperti bola bekel. Mereka kerap jadi “pelampiasan” pelawak laki-laki yang berperan sebagaimana seorang lelaki.

Hingga kini dunia lawak di negeri ini masih saja terdapat grup lawak yang “menjual” banyolan-nya itu dengan “memanfaatkan” seorang anggotanya yang sejatinya laki-laki namun mesti berperan sebagai perempuan. Sayangnya, nyaris tak pernah muncul protes dari penonton terhadap tayangan model seperti ini. Bahkan, sepertinya mereka merasa terhibur dengan munculnya pelawak yang kebanci-bancian tersebut.Lalu, terkesan tanpa adanya figur “banci” tontonan pun terasa hambar (?)

Seiring perjalanan waktu,  penonton  layar kaca sekarang  tidak melulu tertarik pada acara yang mengocok perut melalui panggung lawak seperti era sebelumnya. Ragam acara hasil kreativitas tim entertainment telah mengubah acara demi acara yang tidak monoton. Dari berbagai varian acara tersebut, nampaknya peran kebanci-bancian yang dulu sering mendominasi dunia panggung lawak, dalam beberapa tahun terakhir telah menyasar ke berbagai segmen acara. Selain dunia lawak seperti Extravaganza dengan ikon “Aming” yang jadi ngetop, ada pula acara reality show semacam Mama Mia dengan ikon “Madame Ivan”. Di deretan presenter hiburan, Olga Syahputra pun tak jarang mengenakan kostum perempuan dengan ocehan yang “menggoda” presenter laki-laki pasangannya.

Lebih khas lagi, seorang Dorce Gamalama yang dilahirkan sebagai seorang laki-laki bernama Ahmad Ashadi, kemudian menjalani operasi menjadi “perempuan” bisa dikatakan berhasil menghibur publik tanpa protes atas perubahan status kodrati dirinya itu. Padahal, mayoritas publik di sini adalah Muslim yang dalam ajarannya secara tekstual melarang penganutnya mengubah fisik maupun mentalnya dari laki-laki ke perempuan atau sebaliknya.  Acara talk show “Dorce Show” bahkan tetap memiliki rating tinggi meski sudah melampaui 1.200 episode.

Maraknya tayangan dengan pembawa acara maupun aktor yang berperan kebanci-bancian itu kini mendapat perhatian serius dari lembaga keagamaan semacam Majelis Ulama Indonesia (MUI). Ketua Komisi Fatwa MUI KH Ma’ruf Amin, seperti dikutip Republika (26/6) menyatakan bahwa agama (Islam–red) melarang umatnya berperilaku meniru-niru, misalnya laki-laki yang berperilaku seperti perempuan atau sebaliknya.

Ketua Komnas Perlindungan Anak, Seto Mulyadi, masih dikutip Republika, juga berkomentar keras terhadap tayangan yang menghadirkan model kebanci-bancian. Ia menyarankan para orangtua untuk mematikan televisi ketika tayangan yang menampilkan aksi kebanci-bancian diputar. Kak Seto, sapaan akrab Seto Mulyadi, setuju memboikot tayangan-tayangan yang tidak memiliki unsur pendidikan sedikit pun.

Leave a Reply