Rakyat Kian Susah, Partai Politik Kian Meriah

Harga-harga kebutuhan pokok dan barang-barang lainnya yang terus naik sejak diterapkannya kenaikan harga BBM beberapa waktu lalu, kiranya membuat sebagian besar rakyat berpenghasilan pas-pasan kian menderita. Terlebih lagi bagi kelompok masyarakat marjinal yang tak berpenghasilan tetap serta kaum pengangguran. Kehidupan mereka bisa jadi makin tak menentu.

 Di tengah kepungan harga-harga sembako yang mestinya mudah dan terjangkau oleh rakyat, nyatanya tak dapat meredam nafsu para petualang politik. Justru kondisi perekonomian dan kehidupan bangsa demikian yang dilihat dari “perspektif” lain oleh mereka, malah hingar-bingar di panggung perpolitikan nasional kian terasa.

Komisi Pemilihan Umum (KPU) Rabu (9/7) lalu telah mengumumkan 34 partai politik yang berhak mengikuti pesta demokrasi (Pemilu) 2009 mendatang. Tiga puluh empat parpol itu berasal dari 16 parpol lama dan 18 parpol baru yang tidak memenuhi electoral threshold (ET) sesuai undang-undang yang berlaku. Meski demikian, muka-muka lama yang tak pernah menyerah demi meraih kekuasaan masih kentara.

Kembali lagi, belitan perekonomian sebagian rakyat yang terus terpuruk sekarang ini sepertinya menjadi “lahan subur” partai-partai politik untuk mengambil hati mereka. Pendekatan yang kian menonjol adalah berbagai kegiatan yang dikemas dengan dalih menjunjung keadilan dan persamaan, serta mengedepankan sikap empati atas derita yang menimpa wong cilik.

Secara kasat mata kita dapat menyaksikan para pimpinan dan jajaran pengurus parpol berlomba-lomba menarik perhatian rakyat. Namun, secara tak kasat mata, invisible, wallahu a’lam apa yang terjadi di balik munculnya banyak parpol tersebut. Sebab jika mengambil perbandingan dengan negara-negara di berbagai belahan dunia lainnya, jumlah parpol di negeri ini sangat jauh berbeda.

Partai politik memang menjadi kendaraan tercepat menuju gerbang kekuasaan di bandingkan jalur-jalur lainnya. Karena itu wajar jika jalur ini masih digandrungi para penggiat politik tulen, sosok-sosok oportuni, maupun kelompok adventurir. Biarkan rakyat yang menilai mana-mana parpol yang secara alamiah berjalan di track yang benar. Kedewasaan rakyat di sini sudah menampakkan wujudnya sejak lengsernya penguasa Orde Baru, Soeharto.

One Response

  1. Hanya satu partai yang “tampaknya” bersih sampai saat ini. Jika partai yang satu ini ikut-ikutan seperti yang lainnya, maka saya pribadi 100% tidak percaya dengan parpol. Apapun slogan yang mereka bawa. Sementara kualitas elit politik dapat diukur dengan dua partai besar negeri ini. Bahasa ‘katronya’: ” Mung semono kuwi lempenge poro penggedene Indonesia”. ( Hanya sebatas itu lurusnya para pembesar Indonesia). Jadi apalagi yang kita harapkan?

Leave a Reply