Obama, O…O…?!

Kandidat presiden AS yang kian populer di seluruh penjuru negara bagian AS, bahkan kesohor ke mancanegara, Barack Husein Obama, terus saja melakukan move-move politik demi memperoleh trust publik AS. Move-move itu tentu sangat erat kaitannya dengan kerja kerasnya menuju Gedung Putih, yang pemilihan (presiden) akan digelar bulan November mendatang.

Di satu sisi Obama harus “melayani” aspirasi sebagian warga AS yang mengharapkan “change” sebagaimana brand yang diusungnya. Pastinya Obama juga sadar bahwa kemenangan dirinya atas rival beratnya sesama kandidat presiden dari Partai Demokrat, Hillary Rodham Clinton, adalah sebuah peristiwa yang “janggal” dalam tradisi sejarah kandidat presiden AS; ia berkulit hitam, dan ia bukan keturunan Anglo Saxon.

Di sisi lain, yang tak kalah kuat pengaruhnya adalah dirinya mesti memahami “pengakuan” kelompok Yahudi, terutama organisasi-organisasi pelobi Yahudi di AS. Sudah menjadi rahasia umum bila organisasi pelobi Yahudi di AS memiliki kekuatan yang dahsyat dalam kebijakan politik luar negeri AS dalam rentang sejarah berdirinya negara Zionis Israel. Organisasi seperti American-Israel Public Affairs Committee’s (AIPAC) dan Conference of Presidents of Major Jewish Organizations (CPMJO), seperti ditulis John J. Mearsheimer dari Universitas Chicago dan Stephen M. Walt dari Universitas Harvard (2006), mencatatnya sebagai pelobi Yahudi paling berpengaruh di As.

Kebijakan politik luar negeri yang sudah “mengurat syaraf” itu pun tak dapat mematahkan spirit “change” yang diusung Barack Obama. Bisa jadi ada sebagian publik AS yang menerjemahkan “change” itu adalah diakhirinya hubungan simbiosis mutualisme antara AS dan Israel. Namun, dalam soal yang satu ini Obama memilih “penguatan” hubungan tersebut.

Salah satu langkah Obama yang disambut hangat oleh kaum Yahudi, tapi sebaliknya ditentang oleh kelompok Islam, adalah kunjungan resminya ke Tembok Ratapan atau Kotel yang sangat sakralkan oleh bangsa Yahudi. Tembok Ratapan tepat berada di sisi kompleks Masjid Al-Aqsha, wilayah pendudukan Israel di Palestina. Di situ, meski Obama bukanlah seorang Jewish, ia mau saja memakai kippa (peci khas Yahudi), bersama istrinya, Michele, secara khusyuk memanjatkan doa dan menyelipkan permohonan tertulisnya kepada Tuhan di sela-sela Tembok Ratapan.  

Kunjungan khusus Obama ke Tembok Ratapan malah terjadi di saat kaum Muslimin Palestina sedang menunaikan shalat Shubuh di Al-Aqsha. Mungkin Obama jika Tembok Ratapan berada di kompleks Al-Aqsha yang pernah menjadi kiblat umat Islam. Sehingga ia tak sadar bahwa kaum Muslimin, terutama di wilayah pendudukan Palestina, mencatat kunjungannya ke Tembok Ratapan itu telah melukai hati mereka.

Entah kenapa Obama juga tak sekalian mengunjungi wilayah otoritas Palestina meski kakinya sudah menginjak area tersebut. Jangan-jangan imej yang tertanam di benak Obama mengenai sejarah Palestina dan para pejuangnya telah terkena brain washing pelobi Yahudi?

Leave a Reply