Beginilah jadinya bila negara yang menjuluki dirinya sebagai Super Power di dunia ini mengalami krisis keuangan. Negara-negara di seantaero bumi–tak pandang bulu negara maju atau miskin–langsung terkena dampaknya. Bursa-bursa saham tiba-tiba mengalami pesakitan meski sebelumnya sehat wal afiat!
Wabah krisis keuangan yang menjangkiti perekonomian AS sepertinya sedang menuju titik nadir dimana di negara Paman Sam itu lembaga keuangan dan perbankan sudah tak sanggup lagi menahan gejolak kredit macet di sektor properti sekira dalam setahun terakhir.
Pemerintahan Bush kini sedang gundah dan panik. Jika beberapa tahun sebelumnya Presiden Bush sibuk dan dipusingkan oleh isu terorisme, kini bisa jadi ia tak bisa tidur gara-gara krisis yang mengancam kebangkrutan ekonomi di negara yang ia pimpin selama dua periode itu.
Upaya penyelamatan Gedung Putih untuk mengatasi krisis telah dicoba dengan berbagai cara. Misalnya dengan menginstruksikan Bank Sentralnya untuk menurunkan suku bunga serta pengguyuran dana bank sentral ke pasar, namun upaya ini tak dapat mengatasi masalah secara berkelanjutan. Ditambah lagi dengan kebijakan Bush dengan menandatangani paket dana talangan sebesar US $700 miliar lewat UU Stabilisasi Ekonomi Darurat (3/10), tapi pasar saham hanya merespons positif sesaat saja.
Indeks saham Dow Jones di bursa Wall Street New York berkali-kali anjlok, diikuti dengan rentetan kejatuhan indeks-indeks saham di negara-negara Eropa terus merembet ke kawasan Asia. Para investor panik sehingga aksi pelepasan saham yang mereka miliki demi menyelamatkan diri dari gelombang krisis keuangan yang dipancarkan dari AS sebagai pusat keuangan dunia. Indeks saham pun terjun bebas dan mengancam stabilitas perekonomian negara. Para nasabah bank di berbagai kawasan dunia juga beramai-ramai menarik dananya untuk mengantisipasi “bencana” yang tak mereka inginkan.
Tak heran bila sejumlah negara, termasuk Indonesia terpaksa menghentikan sementara perdagangan (suspensi) seluruh saham dan derivatif sejak Rabu (8/10). Kebijakan suspensi itu dilakukan karena melihat “ketidakwajaran” atas merosotnya indeks harga saham gabungan.
Warga dunia kini siap atau tidak mesti siap-siap menghadapi krisis ekonomi global karena era milenium tunduk pada mekanisme global yang terwakili oleh sistem kapitalis. Pusat sistem kapitalis itu sekarang tengah dililit masalah serius sehingga dampaknya juga menjalar ke seluruh pelosok dunia.
Di beberapa negara
Filed under: Uncategorized