Agus Condro dan Kejujuran Seorang Politikus

Agus Condro Prayitno, 47, kader dan politikus Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) tiba-tiba menjadi tenar namanya selama beberapa pekan terakhir. Anggota FPDIP DPR RI, yang kemudian di-recall dari fraksinya, ini begitu gentlement mengakui telah menerima traveller’s check senilai Rp 500 juta  yang dinilainya sebagai “kompensasi” atas terpilihnya Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia Miranda S. Goeltom, Juni 2004 silam.

“Budaya” Yang Layak Ditiru dari Negeri Sakura

Secara mengejutkan publik, Perdana Menteri (PM) Jepang Yasuo Fukuda Senin (1/9) meletakkan jabatannya secara sukarela. Ia menggelar jumpa pers di kediaman resmi perdana menteri di Tokyo, Jepang, tepat pada bulan terakhir masa setahun pertama menduduki kursi itu. Politikus senior berusia 72 tahun tersebut memutuskan lengser demi mempersilakan pemimpin baru yang layak memimpin dan mampu mengendalikan goncangan krisis ekonomi sehingga mendapat kepercayaan publik.

Peletakan jabatan yang banyak diincar elite-elite politik di Jepang tersebut merupakan buntut dari kian renggangnya hubungan antara pemerintahan yang dikendalikan oleh Partai Liberal Demokrat (LDP) dengan kubu oposisi yakni Partai Demokrat. Di parlemen, LDP menguasai majelis rendah, sementera majelis tinggi dikuasai oleh Demokrat. Partai oposisi lazimnya berupaya kerap bersikap kontra kebijakan pemerintah. Nah, rancangan undang-undang yang diajukan oleh majelis rendah hampir selalu “jegal” oleh kelompok oposan, hingga menimbulkan resesi yang tak pasti di negeri Sakura itu.

Karena selama masa kepemimpinannya itu PM Yasuo tak merasakan jalan mulus untuk menyelamatkan negara industri tersebut dari keterpurukan, mengundurkan dirilah yang akhirnya ia pilih demi menunjukkan sikap seorang negarawan. Ia menjadi PM yang mewarisi “budaya” lengser pemimpin bangsa.

Tepat setahun lalu, seperti dicatat kantor berita AP, PM Shinzo Abe mengundurkan diri karena terjadi skandal oknum menteri di kabinetnya. Setahun persis sebelumnya lagi juga PM Junichiro Koizumi terpaksa melengserkan diri akibat kunjungannya yang kontroversial ke kuil Yasukuni.

PM Yoshiro Mori yang dilantik tahun 2000 telah menjadi “teladan” atas budaya lengser saat dimana pas setahun masa kepemimpinannya dirinya sempat asik main golf, sementara 19 nelayan Jepang tewas tertabrak kapal AS.

BI: Dimana Dana Mengalir Sampai Jauh

Indikasi skandal penyalahgunaan dana milik Bank Indonesia (BI) kian panas. Maksud awalnya ingin menyelamatkan para petinggi BI dari jeratan masalah, eh, malah menjalar jadi masalah yang menarik untuk disimak. Hal ini terungkap dari jalannya persidangan dari pekan satu ke pekan berikutnya yang memberikan sinyal adanya ketidakberesan dalam kebijakan sejumlah eksekutif/jajaran dewan gubernur BI di era kepemimpinan Burhanuddin Abdullah.

Menanti Janji Pemerintah Wujudkan Amanat UUD

Salah satu poin penting isi pidato kenegaraan yang dibacakan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (15/8 ) lalu adalah soal janji pemerintah untuk memenuhi amanat UUD 1945 (amandemen keempat), terutama di bidang pendidikan. Yakni, akan dipenuhinya anggaran pendidikan sebesar 20%. Statemen kepala pemerintahan yang dibacakan di hadapan anggota legislatif dan perwakilan masyarakat Indonesia tersebut tentu mendapat apresiasi dari masyarakat luas.

Obama, O…O…?!

Kandidat presiden AS yang kian populer di seluruh penjuru negara bagian AS, bahkan kesohor ke mancanegara, Barack Husein Obama, terus saja melakukan move-move politik demi memperoleh trust publik AS. Move-move itu tentu sangat erat kaitannya dengan kerja kerasnya menuju Gedung Putih, yang pemilihan (presiden) akan digelar bulan November mendatang.

Di satu sisi Obama harus “melayani” aspirasi sebagian warga AS yang mengharapkan “change” sebagaimana brand yang diusungnya. Pastinya Obama juga sadar bahwa kemenangan dirinya atas rival beratnya sesama kandidat presiden dari Partai Demokrat, Hillary Rodham Clinton, adalah sebuah peristiwa yang “janggal” dalam tradisi sejarah kandidat presiden AS; ia berkulit hitam, dan ia bukan keturunan Anglo Saxon.

Di sisi lain, yang tak kalah kuat pengaruhnya adalah dirinya mesti memahami “pengakuan” kelompok Yahudi, terutama organisasi-organisasi pelobi Yahudi di AS. Sudah menjadi rahasia umum bila organisasi pelobi Yahudi di AS memiliki kekuatan yang dahsyat dalam kebijakan politik luar negeri AS dalam rentang sejarah berdirinya negara Zionis Israel. Organisasi seperti American-Israel Public Affairs Committee’s (AIPAC) dan Conference of Presidents of Major Jewish Organizations (CPMJO), seperti ditulis John J. Mearsheimer dari Universitas Chicago dan Stephen M. Walt dari Universitas Harvard (2006), mencatatnya sebagai pelobi Yahudi paling berpengaruh di As.

Kebijakan politik luar negeri yang sudah “mengurat syaraf” itu pun tak dapat mematahkan spirit “change” yang diusung Barack Obama. Bisa jadi ada sebagian publik AS yang menerjemahkan “change” itu adalah diakhirinya hubungan simbiosis mutualisme antara AS dan Israel. Namun, dalam soal yang satu ini Obama memilih “penguatan” hubungan tersebut.

Salah satu langkah Obama yang disambut hangat oleh kaum Yahudi, tapi sebaliknya ditentang oleh kelompok Islam, adalah kunjungan resminya ke Tembok Ratapan atau Kotel yang sangat sakralkan oleh bangsa Yahudi. Tembok Ratapan tepat berada di sisi kompleks Masjid Al-Aqsha, wilayah pendudukan Israel di Palestina. Di situ, meski Obama bukanlah seorang Jewish, ia mau saja memakai kippa (peci khas Yahudi), bersama istrinya, Michele, secara khusyuk memanjatkan doa dan menyelipkan permohonan tertulisnya kepada Tuhan di sela-sela Tembok Ratapan.  

Kunjungan khusus Obama ke Tembok Ratapan malah terjadi di saat kaum Muslimin Palestina sedang menunaikan shalat Shubuh di Al-Aqsha. Mungkin Obama jika Tembok Ratapan berada di kompleks Al-Aqsha yang pernah menjadi kiblat umat Islam. Sehingga ia tak sadar bahwa kaum Muslimin, terutama di wilayah pendudukan Palestina, mencatat kunjungannya ke Tembok Ratapan itu telah melukai hati mereka.

Entah kenapa Obama juga tak sekalian mengunjungi wilayah otoritas Palestina meski kakinya sudah menginjak area tersebut. Jangan-jangan imej yang tertanam di benak Obama mengenai sejarah Palestina dan para pejuangnya telah terkena brain washing pelobi Yahudi?

Ryan, Kemayu kok Sadis, sih?!

Secara fisik Verry Idham Henyaksyah, alias Ryan, 30, berpenampilan seorang lelaki. Hanya saja dalam pergaulannya sehari-hari ia tidak menunjukkan penampilan fisiknya itu sebagai lelaki yang macho dan normal. Ia memang sudah cukup lama blak-blakan pada beberapa teman akrabnya bahwa dirinya seorang gay–berhasrat nafsu syahwat hanya pada sesama jenis.

Jangan kaget, soal pengakuan seorang lelaki yang mengaku dirinya sebagai seorang gay atau homoseks. Di negeri ini sudah puluhan tahun terakhir perkembangan dan pertumbuhan dunia gay terus menunjukkan eksistensinya. Mereka sudah terang-terangan mendirikan perkumpulan gay dengan kegiatan komunitasnya yang beragam. Dari salon hingga diskotik.

Yang bikin kaget adalah pengakuan Ryan yang telah mencincang alias memutilasi tubuh Heri Santoso, 40, yang diduga sebagai salah seorang teman kencannya. Heri, seperti dituturkan Ryan pada aparat penyidik, dan dihimpun dari berbagai media, dihabisi nyawanya karena “menawarkan harga” untuk dapat berkencan dengan Noval, pasangan setia Ryan. Tak cukup dibunuh, jasad Heri lalu dipotong-potong menjadi 7 bagian dan dimasukkan ke dalam koper dan  kantong plastik. Dengan menyewa taksi, potongan tubuh Heri dibuang di daerah bilangan Kebagusan, Jakarta Selatan.

Jejak kesadisan Ryan kian terungkap manakala dia mengaku membunuh sedikitnya empat korban lainnya, yakni Guntur, Grandy, Ariel Somba Sitangggang, dan Vincent. Sementara aparat kepolisian terus mengembangkan penyelidikannya dengan menghimpun data orang-orang hilang dan mengenal Ryan. Misalnya, seorang ibu rumah tangga yang aktif bareng Ryan di sebuah klub fitnes, Nanik, beserta puterinya, Silvia, dilaporkan hilang sejak 2 April.

Orang-orang dekat Ryan yang mengetahui perkembangannya di masa kanak-kanak dan remaja di kampung halamannya, desa Jatiwates, Tembelang, Jombang, Jawa Timur, tak menyangka dirinya yang dikenal lembut, pendiam, dan lebih menyukai bergaul dengan perempuan, itu adalah seorang psikopat dan tersangka pembunuhan berantai. Siapa nyana?

Ya Ampun…! Di Tahanan Masih Bisa Bikin “Skenario”?

Ironis betul kondisi penegakan hukum di negeri ini. Apa kata dunia—meminjam kalimat salah sebuah slogan iklan—jika seorang tahanan titipan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) bisa dengan leluasanya berkomunikasi melalui handphone?

          Adalah Artalyta Suryani, alias Ayin, terdakwa kasus dugaan suap sebesar US$ 660 kepada jaksa Urip Tri Gunawan, yang berupaya sesegera mungkin terbebas dari jeratan hukum yang sedang membelitnya. Meski percakapan dirinya dengan beberapa orang penting, termasuk dengan Urip disadap dan diperdengarkan dalam gelar sidang kasus tersebut, perempuan yang selalu berpenampilan “kinclong” ini tak kapok-kapok juga.

          Bayangkan, walau ia sudah menghuni tahanan Mabes Polri, namun dengan lihainya Ayin menyusun strategi untuk “mengakali” kasus suap untuk dialihkan menjadi masalah utang-piutang dengan Urip. Jika dulu alasan “pemberian” uang itu sebagai transaksi bisnis permata, kali ini dibuat skenario pinjaman bisnis perbengkelan.

          Maka, seperti dikutip dari berbagai media, hasil sadapan percakapan Ayin dan Urip diputar ulang dalam persidangan Kamis (17/7). Ayin tentu saja terperanjat dengan sadapan itu, meski nomor SIM Card yang digunakan berkode negara Singapura. Meski ia menyangkal melakukan percakapan melalui telepon karena trauma, namun apa daya rekaman yang diperdengarkan tersebut membuatnya tak berkutik.

          Tak hanya rekaman percapakan dengan Urip untuk menyusun skenario pengalihan dugaan suap itu yang tertangkap alat penyadap KPK, diketahui pula jika Ayin pernah menghubungi seorang pria yang diminta untuk menyusun skenario kesaksian Urip.

          Bocornya rahasia percakapan Ayin ini telah menampar aparat kepolisian. Kepala Badan Reserse Kriminal Komisaris Jenderal Bambang Hendarso Danuri, seperti dikutip Koran Tempo (18/7) membantah Artalyta menelepon dari ruang tahanan. Ini menjadi PR bagi Kapolri dan jajarannya untuk menyelidiki kasus ini. Termasuk sistem dan mekanisme komunikasi seorang tahanan, baik terhadap “orang-orang tertentu” maupun pada publik